18 Rejab 1436H
07 Mei 2015M
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتهُ
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـنِ ٱلرَّحِيم
(Bahagian pertama)
Jiwa manusia jadi lemah bila HATI mengikut hawa nafsu...
Al-Imam Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata ( dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin ) :
"Hawa nafsu adalah kecenderungan diri terhadap apa-apa yang sesuai dengan kehendaknya. Kecenderungan ini telah diciptakan di dalam diri manusia demi kelangsungan hidup mereka. Kerana apabila tidak ada kecenderungan (nafsu) terhadap makanan, minuman dan keperluan kelamin maka mereka tidak akan makan, tidak minum dan tidak pula menikah. Hawa nafsu mendorongnya terhadap apa yang dikehendakinya itu. Sebagaimana sifat marah mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya. Oleh itu tidak boleh mencela hawa nafsu secara mutlak dan tidak boleh pula memujinya secara mutlak. Sebagaimana perasaan marah tidak boleh dicela secara mutlak dan tidak pula dipuji secara mutlak. Namun kebisaaan orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan emosinya tidak dapat berhenti sampai pada batas yang bermanfaat saja maka dari itulah hawa nafsu, syahwat dan amarah dicela, karena besarnya mudharat (keburukan) yang ditimbulkannya. Dan juga jarang sekali ditemui orang yang dapat berlaku adil dan berhenti pada batas positif bila telah dikuasai oleh hawa nafsu, syahwat dan amarah".
Justeru, Allah ta’ala selalu mencela hawa nafsu dalam Al Quran.
فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا (١٣٥) سورة النساء
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
(An-Nisa': 135)
Demikian juga dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu dicela oleh Rasul SAW, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ شَهَوَاتُ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ ، وَفِي فُرُوجِكُمْ ، وَمُضِلاتِ الْهَوَى "
رواه احمد
Daripada Abu Barrazah Al Aslami , Rasululullah SAW bersabda:
"Yang paling aku khawatir ke atas kamu ialah syahwat yang jahat dalam perutmu dan kemaluanmu, juga hawa hafsu yang menyesatkan".
(Hadith Riwayat Ahmad)
Namun Allah Ta'ala juga memberi rahmatNya kepada nafsu hamba-hamabaNya yang dipilih dan memuji nafsu yang muthmainnah (tenang)...
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٥٣) سورة يوسف
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Yusuf: 53)
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ سورة الفجر
Hai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(28)
(Al-Fajr: 27-28)
Oleh itu, nafsu wajib dididik, diasuh dan dimujahadahkan supaya tunduk kepada syariat Allah Ta'ala.
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا يُؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به )
حديث صحيح رواه الأصفهاني وأخرجه الطبراني
Daripada Abdullah ibnu Amru bin 'As RAhumma, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman kamu hingga menjadikan hawa nafsunya selalu tunduk mengikuti ajaran yang ku bawa.”
(Hadith Riwayat Al-Asfahani dan At-Thabarani)
(Bersambung esok bahagian kedua)
No comments:
Post a Comment